Tulis yang Anda cari

Artikel

Menjaga Kesehatan Mata Dalam Menjalani Aktivitas Pelatihan Daring

Share

Oleh: Anandhya Aswindro Purmadi
Widyaiswara Pertama Pusdiklat Balitbang Kominfo

Pusdiklat Kemkominfo – Semenjak mencatatkan kasus pertama dan kedua penderita Covid 19 pada Maret 2020 lalu,  Indonesia mengalami salah satu disrupsi terberat dalam sejarahnya. Presiden kemudian bergerak cepat dan menetapkan bahwa pandemic Covid 19 sebagai bencana nasional. Pernyataan tersebut dituangkan dalam Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non-Alam Penyebaran CORONA VIRUS DISEASE 2019 (COVID-19) Sebagai Bencana Nasional pada Senin tanggal 13 April 2020.

Menanggapi ketetapan terebut, seluruh lembaga pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah mengambil langkah-langkah dalam usaha mengahadapi pandemi Covid 19 sebelum obat penyembuhnya ditemukan. Tak hanya penanganan dibidang kesehatannya, tetapi juga di seluruh sektor lain yang terimbas juga diatur, seperti ekonomi, pendidikan, sosial dan termasuk juga penyelenggaraan negara.

Kementerian PAN RB menerbitkan Surat Edaran Kementerian PANRB Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah yang merupakan pedoman untuk instansi pemerintah maupun lembaga dan daerah dalam pelaksanaan tugas kedinasan dengan bekerja di rumah atau tempat tinggalnya (work from home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara dalam upaya pencegahan dan meminimalisir penyebaran Covid-19. Kemudian surat edaran tersebut diaopsi oleh lembaga-lembaga pemerintah dan pemerintah daerah lain.

Penyesuaian pada penyelenggaraaan negara dilakukan dalam berbagai bidang. Mulai dari pelayanan perizinan, pelayanan kesehatan, rapat dan konferensi dan juga pelatihan. Pelatihan ASN yang pada umumnya dilakukan melalui metode tatap muka di kelas dan dilaksanakan di kampus-kampus lembaga diklat pemerintah, kini beradaptasi menjadi berbasis on-line atau daring. Hal ini sebetulnya sudah mulai diterapkan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) sebagai pembina lembaga pendidikan dan pelatihan di Indonesia dengan mulai mengembangkan pembelajaran jarak jauh 3 – 4 tahun belakangan ini. Dengan adanya disrupsi pandemic Covid 19, mau tidak mau, semua lembaga pelatihan pemerintah segera ikut beradaptasi dengan membuat pelatihan-pelatihannya menggunakan metode pembelajaran jarak jauh dan daring. LAN sendiri mengatur pelatihan menajerial seperti pelatihan dasar CPNS, PKP dan PKA dalam bentuk pembelajaran jarak jauh. Sedangkan pelatihan Teknis dan Fungsional dikembalikan pada lembaga pemerintah pembina atau pengampunya.

Maka dibanjirilah ASN dengan berbagai macam pilihan pelatihan berbasis jarak jauh dan daring. ASN bisa memilih mengikuti pelatihan yang sesuai dengan pengembangan kompetensi yang ia butuhkan. Pelatihan daring ini tidak selalu disediakan lemabaga pelatihan pemerintah, tapi juga yang disediakan oleh perguruan tinggi, lembaga pelatihan non pemerintah sampai dengan lembaga swadaya masayarakat (LSM). Dengan adanya banyak pilihan dan menghadapi bekerja dari rumah, mengikuti pelatihan berbasis daring pada akhirnya menjadi salah satu kegiatan yang menjadi elemen penting bagi ASN. Dalam satu bulan minimal seorang ASN dapat mengikuti satu pelatihan yang bisa dipilihnya untuk mendukung kinerjanya dan juga mengembangkan potensinya, selain mengerjakan tugas dan fungsinya dari rumah.

Namun, dengan melakukan pekerjaan dan pelatihan lewat daring, seorang ASN akan banyak melewatkan hari-harinya dengan bekerja menggunakan computer dan gawai. Tentunya hal ini berpotensi menimbulkan efek samping. Hal yang kian sering dikeluhkan masyarakat pada umumnya dan ASN pada khususnya adalah mulai terganggunya kesehatan mata. Mata kita terekspos computer dan gawai hampir 12 jam, dan itu sangat beresiko pada kesehatan mata kita. Gejala umum yang sering dirasakan ketika kita berinteraksi dengan computer dan gawai adalah mata yang lelah, kering pada mata hingga menimbulkan pusing dan sakit kepala

Dalam dunia medis, gangguan pada mata yang disebabkan oleh interaksi yang berlebih dengan computer dan gawai dikenal sebagai Computer Vision syndrome (CVS) atau Eye Strain. Menurut P2PTM Kemenkes RI Computer Vision syndrome (CVS) merupakan sekumpulan gejala pada mata dan leher yang disebabkan oleh penggunaan komputer/layar monitor yang berlebihan. Gejala ini biasanya meliputi nyeri pada leher dan mata.

Andi Marsa Nadhira dari Alodokter menyatakan bahwa Computer vision syndrome dapat timbul karena beberapa sebab, yaitu :

  1. Saat menatap layar, mata terus bergerak dari satu titik ke titik yang lain dan melakukan fokus dalam waktu yang lama. Kegiatan ini membutuhkan kerja keras dari otot mata.
  2. Huruf-huruf pada layar komputer umumnya tidak setajam pada media cetak, sehingga secara tidak sadar akan memaksa mata kita untuk lebih fokus dalam membacanya.
  3. Kerlip dan silau cahaya yang berasal dari layar menambah beban kerja pada mata.
  4. Frekuensi mata untuk berkedip cenderung berkurang saat menatap layar. Hal ini menyebabkan mata menjadi lebih kering.

Kemudian lebih lanjut P2PTM Kemenkes RI menyebutkan, gejala yang biasa dialami oleh penderita CVS antara lain:

  1. Mata menjadi buram
  2. Nyeri kepala
  3. Iritasi mata
  4. Penglihatan menjadi ganda
  5. Mata merah & kering

Dalam jangka panjang, apabila gejala-gejala ini tidak segera ditangani dengan baik, dapat menimbulkan masalah yang lebih serius. Walaupun tidak sampai menimbulkan kebutaan, pada beberapa kasus terburuk, penderita CVS terpaksa harus menjalani operasi untuk penyembuhannya.

Kemudian bagaimana cara kita mengatasinya, apabila kita sudah mulai merasakan gejala-gejala tersebut? Berikut beberapa anjuran yang dikutip dari dr. Andi Marsa Nadhira dokter spesialis mata dari Alodokter yang bisa kita ikuti.

1. Sesuaikan cahaya lingkungan sekitar

Pastikan cahaya di lingkungan sekitar Anda tidak terlalu terang atau terlalu gelap, dengan cara:

  1. Menghindari duduk menghadap atau membelakangi jendela langsung, karena akan mengganggu penglihatan ke layar.
  2. Menutup tirai jendela, jika sinar matahari dirasa terlalu silau.
  3. Menyesuaikan posisi layar, untuk mengurangi refleksi cahaya dari jendela atau lampu.
  4. Mengatur posisi cahaya lampu meja, agar tidak langsung mengarah ke mata.

2. Susun meja kerja Anda

Sesuaikan letak layar komputer, sehingga pandangan Anda tepat mengarah ke tengah layar dengan jarak 50-70 cm dari wajah Anda. Jika Anda bekerja menggunakan komputer dan buku, gunakan book stand untuk meletakkan buku agar sejajar dengan layar. Tujuannya adalah untuk mengurangi gerakan menunduk dan menengadah secara berulang.

3. Ubah pengaturan pada layar komputer Anda

Atur tingkat terang, kontras, dan ukuran huruf sesuai dengan kenyamanan Anda. Jika perlu, gunakan screen filter untuk mengurangi kilatan cahaya dari layar.

4. Batasi waktu penggunaan komputer

Sebaiknya, batasi waktu penggunaan gadget, termasuk komputer. Selama menggunakan komputer:

5. Sering kedipkan mata Anda untuk melembapkan mata selama bekerja.

Lakukan kiat 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan dari layar setiap 20 menit untuk menatap objek yang berjarak jauh (sekitar 20 kaki atau 6 meter) selama 20 detik. Dua puluh detik merupakan waktu yang dibutuhkan untuk otot mata akhirnya relaksasi.

6. Gunakan obat tetes air mata buatan

Jika perlu, Anda bisa meneteskan air mata buatan untuk membantu melembapkan mata. Obat tetes air mata buatan dapat dibeli tanpa resep dokter, namun pastikan obat tetes tersebut tidak mengandung bahan aktif obat atau pengawet, sehingga tidak menyebabkan efek samping pada mata.

7. Atasi kondisi mata lain yang dimiliki

Gunakan kacamata dengan lensa yang sesuai jika Anda menderita rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), mata silinder (astigmatisma), atau mata tua (presbiopia) untuk membantu kerja mata.

8. Gejala computer vision syndrome memang tidak berbahaya dan umumnya bersifat sementara. Namun, kondisi ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan hambatan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Sebaiknya, konsultasikan dengan dokter spesialis mata jika gejala yang Anda alami tetap berlanjut atau bahkan semakin berat, meski Anda sedang tidak menggunakan perangkat berbasis komputer.

Sumber:

Tag: