Tulis yang Anda cari

Artikel

Peran Widyaswara dalam Mewujudkan ASN Unggul di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Share

Ilustrasi. (Astrid Puspita Sari)

Oleh: Astrid Puspita Sari, S.PT, MA
Widyaiswara Ahli Muda Pusdiklat Balitbang Kominfo

Jakarta – Pusdiklat Kemkominfo. Pandemi Covid-19 yang berlangsung di seluruh dunia 2019 lalu membawa tantangan baru di setiap lini. Tak pelak, Indonesia juga harus melakukan banyak perubahan di dalam segala bidang termasuk sistem pemerintahan yang ada. Hal ini juga ikut mempengaruhi pemerintah dalam mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang unggul kedepannya. Pemerintah perlu memikirkan langkah-langkah strategis dalam menciptakan ASN yang profesional dan berkinerja terbaik serta berintegritas untuk mendukung birokrasi yang bersih dan melayani.

Sementara itu, berdasarkan Peraturan LAN Nomor 10 tahun 2018 tentang Pengembangan Kompetensi PNS mengamanatkan setiap PNS memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk mengikuti Pengembangan Kompetensi paling sedikit 20 (dua puluh) JP dalam 1 (satu) tahun. Pengembangan kompetensi ini dilakukan untuk sebagai upaya untuk pemenuhan kebutuhan kompetensi PNS dengan standar kompetensi Jabatan dan rencana pengembangan karir. Setidaknya ada tiga kompetensi kunci Kompetensi Teknis, Kompetensi Manajerial dan Kompetensi Sosio-Kultural di dalam peraturan tersebut.

Sesuai peraturan LAN tersebut, bentuk pengembangan kompetensi yang dapat dilakukan antara lain ada di dalam pelatihan manajerial, pelatihan teknis, pelatihan fungsional, pelatihan sosial kultural, seminar/konferensi/sarasehan, lokakarya, kursus, penataran, bimbingan teknis dan sosialisasi. Pengembangan Kompetensi PNS dapat dilaksanakan dalam bentuk pendidikan dan atau pelatihan dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai tujuan pembelajaran dan peningkatan kinerja.

Dengan adanya pandemi covid-19, maka diperlukan adaptasi kebiasaan baru dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. Pelatihan yang biasanya diselenggarakan secara klasikal kemudian diubah menjadi non-klasikal atau pembelajaran jarak jauh secara daring. Widyaiswara dalam melaksanakan peranannya sebagai pengajar dituntut untuk lebih fleksibel dan beradaptasi melalui pemanfaatan teknologi agar dapat menciptakan pelayanan publik yang optimal, efisien dan efektif.

Selain itu, Permenpan RB Nomor 22 tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Widyaiswara dan angka kreditnya mengamanatkan bahwa Widyaiswara merupakan jabatan fungsional yang mempunyai tugas pokok mendidik, mengajar, melatih dan melakukan evaluasi dan pengembangan diklat pada lembaga diklat pemerintah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Widyaiswara memiliki peran yang sangat strategis dalam keberhasilan penyelenggaraan pelatihan baik secara klasikal maupun secara non klasikal. Widyaiswara dituntut untuk ikut berperan menghasilkan sebuah diklat yang berkualitas tinggi. Sehingga seorang widyaiswara haruslah orang yang kompeten dan profesional di bidangnya. Kualitas seorang widyaiswara juga ikut mempengaruhi kualitas pembelajaran dalam pelatihan yang diikuti oleh ASN.

Pemanfaatan teknologi Informasi dan komunikasi secara optimal akan dapat mendukung strategi pelatihan secara digital. Dalam era pelatihan sekarang ini, tugas seorang Widyaiaswara cukup berat dalam memastikan terselenggaranya pelatihan pengembangan kompetensi ASN berjalan dengan optimal. Pelatihan secara daring menuntut Widyaiswara mengubah metode pembelajaran dan cara memfasilitasi kelas pelatihannya yang jauh berbeda saat pelatihan secara klasikal. Widyaiswara di era new normal perlu menambah kompetensi baru yang harus dikuasai yakni kompetensi dalam penguasaan TIK dan multimedia sebagai contoh antarfa lain membuat bahan ajar multimedia dalam bentuk video pembelajaran misalnya. Banyak sekali aplikasi-aplikasi pembuatan dan editing video yang dapat dimanfaatkan oleh widyasiwara antara lain, Camtasia, officemix, vn, bandicam dan kinemaster. Kesemua aplikasi itu adalah aplikasi non berbayar dan mudah digunakan bahkan untuk pemula sekalipun. Sehingga diharapkan nantinya pelatihan secara daring dapat berjalan optimal, menarik dan tersampaikan dengan baik.

Menjawab hal tersebut, Pemerintah melalui LAN telah mengatur Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi Pegawai Negeri Sipil Melalui E-Learning di dalam Peraturan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2018. Sehingga upaya pengembangan kompetensi PNS menuju ASN unggul dapat segera dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan. Namun, ASN harus lebih produktif di era new normal mengingat kondisi saat ini, lebih dari 1,6 juta  ASN hanya memiliki kemampuan sebatas administrasi. Masa pandemi mengajarkan kita untuk bekerja dan belajar secara cepat dan tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Memasuki Era New Normal, metode distance learning perlu terus dikembangkan dengan memberikan pilihan yang lebih fleksibel kepada lembaga pelatihan untuk menyelenggarakan pelatihan jarak jauh baik secara klasikal maupun non klasikal. Langkah-langkah strategis dalam percepatan pengembangan kompetensi ASN terutama di masa pandemi Covid-19 melalui pendekatan flexible learning yaitu pembelajaran dilakukan lebih lentur dan dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja. Flexible learning dapat digunakan sebagai strategi pengembangan kompetensi yang memanfaatkan TIK baik synchronous maupun asynchronous.

Dalam konteks demikian, e-learning sebagai pendukung proses pembelajaran sejatinya juga dapat diterapkan dalam program pendidikan dan pelatihan atau diklat. E-learning memiliki keunggulan-keunggulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas perencanaan, pemantauan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan pada era new normal. Meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan pembatasan jarak fisik dan sosial, kegiatan pelatihan ASN tetap dapat berlangsung secara online dan jarak jauh (distance learning). Platform e-learning yang dapat dimanfaatkan antara lain Learning Management System (LMS) yang dimiliki oleh Lembaga diklat masing-masing widyaiswara. Seorang Widyaiswara juga perlu mengasah kemampuan dan kompetensinya dalam menggunakan platform tersebut sehingga LMS tersebut dapat dimaksimalkan penggunaannya. Hal ini diakrenakan di era new normaI saat ini, pelatihan secara online seperti ini sebaiknya terus didorong karena terbukti sangat diminati pada satu sisi dan di sisi lain dapat menghemat anggaran sumber daya lainnya secara signifikan. Sehingga diharapkan kedepannya lewat upaya pengembangan kompetensi ini dengan pelatihan secara daring dapat mendorong terwujudnya ASN yang unggul di masa adapatasi kebiasaan baru.

Akhir kata, kebijakan untuk mendukung pelaksanaan pengembangan kompetensi ASN pada masa pandemi dapat dilakukan dengan jarak jauh melalui teknologi daring. Sejauh ini, distance learning adalah yang paling aman dan banyak digunakan. Lembaga pelatihan dapat mengembangkan bidang TIK untuk mendorong penyelenggaraan pelatihan pengembangan komptensi ASN secara optimal. Strategi baru adalah dengan tetap menerapkan protokol Kesehatan. Kunci kedepannya adalah meningkatkan profesionalisme, peningkatan skill teknologi informasi untuk SDM penyelenggara dan juga Widyaiswara sebagai pengajar, yang tetap taat kebijakan pemerintah pusah dan daerah. (pusdiklat/aps)

Referensi: https://mediaindonesia.com/read/detail/324354-kebijakan-pengembangan-kompetensi-asn-di-era-new-normal

Tag: