Tulis yang Anda cari

Artikel

Mari Mengembangkan Skill Humas Pemerintah Digital!

Share

Ilustrasi. (unsplash.com/@austindistel)

Oleh: Anandhya Aswindro Purmadi, S.Pd.
Widyaiswara Ahli Pertama

Pusdiklat Kemkominfo – Jakarta. Berkaitan dengan akan diselenggarakannya Pelatihan Pembentukan Jabatan Pranata Humas Tingkat Keahlian dan Tikat Keterampilan pada tahun 2021 oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Litbang SDM Kominfo. Sebagai sebuah pemanasan, saya menyusun tulisan mengenai pengembagan skill yang dibutuhkan oleh Humas pemerintah yang berkarya di era digital. Hal ini menjadi perhatian karena para calon Humas pemerintah, khususnya calon Pranata Humas telah bernafas, belajar dan berkarya di era digital. Prediksi saya, yang akan mengikuti pelatihan, akan didominasi dengan para milenial yang digital native. Saya harap tulisan ini bisa menjadi salah satu referensi bacaan sebelum mengikuti pelatihan tersebut.

Sudah berita lama kalau kita mendengar Humas Pemerintah adalah Humas yang kuno, ketinggalan zaman, berkutat dengan gunting, lem dan koran, kemudian memantau televisi dan radio. Walau pada prakteknya, kegiatan-kegiatan tersebut masih relevan untuk dilakukan, mari kita mulai melangkah maju. Para petugas Humas Pemerintah atau yang juga dikenal sebagai Government Public Relations, dalam menjalankan perannya kini berevolusi menjadi Humas yang lebih kekinian, mutakhir dan tangkas. Hal ini dipicu dengan semakin tingginya intensitas perkembangan dunia digital, menjawab tantangan industry 4.0 dan juga tentunya pergeseran pelayanan publik yang mulai perlahan tapi pasti pindah ke ruang-ruang virtual lewat kerangka egovernment. Pemerintah sudah wajib hadir melayani masyarakatnya dari dunia maya untuk memppendek jarang, menyempitkan ruang dan waktu juga memberikan akses yang berkeadilan bagi selurah masyarakat Indonesia dengan biaya yang murah. disinilah Humas Pemerintah, apalagi Pranata Humas berperan penting.

Agar kita bisa sampai ke posisi Humas Pemerintah yang digital, tentunya ada kompetensi yang harus dimiliki. Kompetensi-kompetensi itu yang akan coba saya paparkan dalam tulisan ini. Dari Alexander (2016) yang mengutip The Holmes Report (2015), kita bisa mempelajari bahwa, kebanyakan dari industry secara internasional memerlukan Humas yang memiliki keahlian-keahlian dibawah ini, yaitu:

  1. 40% dari industry memerlukan humas dengan keahlian manajemen komunitas di media sosial;
  2. 39% dari industry memerlukan humas dengan keahlian pembuatan konten multimedia;
  3. 39% dari industry memerlukan humas dengan keahlian wawasan dan perencanaan;
  4. 39% dari industry memerlukan humas dengan keahlian kreativitas;
  5. 31% dari industry memerlukan humas dengan keahlian pengukuran dan analitik; dan
  6. 23% dari industry memerlukan humas dengan keahlian pembuatan dan produksi digital.

Dari data diatas kita bisa pelajari bahwa kemampuan Humas untuk menguasai pengelolaan teknologi digital sangat dibutuhkan oleh kebanyakan industry global. Sebuah hal yang sudah tak terelakkan lagi dan wajib untuk dikuasai.

Mari kita telusuri bagaimana kompetensi Humas Digital dibangun di dunia pendidikan, utamanya di Perguruan Tinggi. Telkom University, mungkin yang pertama di Indonesia, semenjak 2017 memiliki program studi Digital Pulic Relations. Mereka memiliki profil lulusan yang ditargetkan akan menjadi Public Relations Officer, Digital Public Relations Analyst, dan Corporate Communication Planner. Untuk memenuhinya, program studi Digital Pulic Relations Telkom University memiliki beberapa mata kuliah utama, bebrapa diantaranya adalah Hubungan Masyarakat Digital 1 & 2, Riset Hubungan Masyarakat Kuantitatif & Kualitatif, Manajemen Reputasi dan Krisis, Hubungan Media Digital dan Komunikasi CSR. Lebuh lanjut, Hadi (2015) seorang pengajar di program studi Digital Pulic Relations Telkom University mengungkapkan bahwa, para pelaku Humas profesional kini harus menguasai komunikasi digital dengan mampu merencanakan strategi komunikasi, mampu membuat konten strategis, dan mampu mengukur keberhasilan komunikasi yang semuanya ada dalam lingkup digital.

Dari sisi masyarakat pengguna jasa dan layanan, Gulerman dan Apaydin (2017) lewat penelitiannya mengungkapkan beberapa temuan menarik yang bisa kita simak dibawah ini.

Terlihat dari tabel diatas bahwa masayarakat sebagai pengguna barang dan jasa lebih condong menggunakan media digital dalam menyampaikan keinginan dan complain mereka yaitu media sosial pada peringkat pertama, yang diikuti oleh blog, laman forum resmi perusahaan, email perushaan, dan situs perusahaan dibandingkan media konvensional seperti toko fisik produk atau jasa tersebut atau menelpon layanan customer service.

Dalam penelerusan dan mini literature research yang saya lakukan, Singapura adalah negara tetangga terdekat kita yang telah memiliki standar kompetensi dengan adaptasi penggunaan teknologi. Contoh yang bisa dipelajari adalah pada berbagai jenis posisi atau peran Humas yang masuk kedalam level 3 WSQ (Kualifikasi Keahlian Tenaga Kerja Singapura) seperti Marketing Communication Executive, Publication Executive, Community Relations Executive, dan Events Executive memiliki unit kompetensi yang seragam yaitu:

  1. Evaluate and adapt to a variety of technological changes – Mengevaluasi dan beradaptasi dengan berbagai perubahan teknologi
  2. Make presentations – Membuat presentasi
  3. Work effectively with others – Bekerja secara efektif dengan orang lain
  4. Track technology trends – Melacak tren teknologi

Bagaimana dengan standar kompetensi kerja di Indonesia? Indonesia memang telah memiliki standar kompetensi untuk bidang kehumasan. Namun hingga tulisan ini saya buat pada Januari 2021, belum ada pemutakhiran unit kompetensi pada sisi pemanfaatan teknologi informasi secara spesifik. Saya sengaja tidak membuat kesimpulan mengenai kompetensi-kompetensi apa yang dibutuhkan untuk menjadi Humas digital dalam tulisan ini. masih banyak bahan bacaan dan sumber ilmu yang perlu kita gali dan diskusikan. Setidaknya, beberapa kompetensi-kompetensi yang saya paparkan diatas bisa menjadi gambaran bagi kita untuk mengisi kekurangan kompetensi yang kita rasa belum kita miliki agar kita bisa mengejar manjadi Humas digital. Salah satu cara untuk mengisinya adalah dengan mengikuti pelatihan. Pusdiklat Kominfo telah memiliki dan terus menyempurnakan beberapa pelatihan kehumasan yang berbasis digital public relations, terutama dalam setting pemerintah. Silahkan pantau terus laman situs ini untuk mengetahui kapn saja pelatihan-pelatihan tersebut akan diselenggarakan.

Di akhir tulisan, saya mengundang kita semua sebagai penggiat dan pekerja  komunikasi, teknologi informasi dan juga para pengajarnya untuk lebih bersemangat dan mengakselarasi Humas, khususnya Humas pemerintah dan Pranata Humas agar kompeten menyandang gelar sebagai Humas digital atau digital Public Relations. Mari kita push rank up skill kita! (pusdiklat/aap)

Daftar Pustaka:

Tag: